Sabtu, 18 Oktober 2014

About IMM

  Kini ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dihitung dari kelahirannya pada tanggal 29 Syawal 1384 H bertepatan dengan tanggal 14 Maret 1964, telah berumur 49 tahun. Sebagai salah satu organisasi otonom dalam muahmmadiyah, IMM menegaskan diri sebagai organisasi kader yang memiliki peran strategis bagi keberlangsungan dan penyempurnaan gerakan Muhammadiyah. Kelahiran dan kehadirannya di pentas gerakan kepemudaan dan kemahasiswaan bukanlah suatu peristiwa kebetulan dalam sejarah, melainkan akan pentingnya kaderisasi dalam melanjutkan visi dan misi perjuangan cita-cita K.H. Ahmad Dahlan. Oleh karena itu IMM Merupakan suatu keharusan sejarah bagi perjalanan persyarikatan.


A. Pengertian dan sejarah kelahiran IMM
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah salah satu organisasi otonom Muhamadiyah yang notabene dari kaum terpelajar yaitu mahasiswa. Tujuannya adalah untuk menyiapkan kader islam yang khas dalam aspek normatif serta ideologis Muhammadiyah yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Pemikiran untuk membentuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sudah sejak tahun 1958, kemudian pada tahun 1962 diselenggarakan konggres mahasiswa Muhammadiyah di yogyakarta pada tanggal 26 Syawal 1384 H yang bertepatan dengan tanggal 14 maret 1964 M, organisasi ini (IMM) resmi berdiri. Kemudian mengadakan musyawarah nasional ke-1 di Solo pada tanggal 1 – 5 Maret 1965 dan menegaskan diri sebagai gerakan mahasiswa islam berskala nasional, yang lebih terkenal dengan Deklarai kota barat.

B. Faktor / Pengaruh Berdirinya IMM
  1. Situasi Sosio Kultural Kehidupan negara yang mengalami konflik nasional berkepanjangan dengan adanya Dekrit Persiden 5 juli 1959 serta pemberontakan G 30 S PKI, juga berbagai peristiwa di bidang ekonomi, sosial dan politik yang akhirnya menyebabkan pola pikir dan pola hidup rakyat Indonesia berubah.
  2. Situasi Kemahasiswaan Situasi kemahasiswaan pad amasa itu adlaah merupakan kondisi organisasi mahasiswa yang terkotak-kotak dalam bingkai politik sehingga orientasi gerakannya sudah tidak murni lagi (menyimpang). Latar belakang inilah yang mendorong assabiqubal awwalun IMM seperti Djasman Al-Kindi, Sudibyo Markus, R. Sholeh, M. Arif, Amin Rais dan lain-lainnya.
C. Identitas IMM
Secara histori-normatif IMM digagas dan disosialisasikan melalui peranan dan kulturisasi tiga ide dasar sebagai identitas gerakan yaitu :
1. Intelektualitas Sebagai kaum intelektual yang harus berpikir secara rasional atau ilmiah maka IMM membangun tradisi intelektual dan wacana pikiran adalah langkah yang pertama dan utama. Hal ini dilaksanakan dengan pencerahan intelektual (Intelektual enlightment) dengan modl pendekatan individualisasi (upaya mengoptimalkan potensi oleh kesadaran dan penyadaran individu).
2. Religiusitas Orang yang berilmu harus punya moralitas yang baik untuk dapat dipertanggungjawabkan pada dirinya sendiri, ornag lain, masyarakat dan tuhannya. Agar tidak bebas nilai maka intelektual itu diperkuat dan dipertajam melalui hati nuraninya dengan Quwwatul aqidah (tauhid) secara kontinyu serta terarah dengand asar tidak merugikan diri sendiri, orang lain dan masyarakat.
3. Humanitas Kebenaran melakukan aktualisasi dari keduanya diatas adlaah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi, dengan mengokohkan dan merealisasikan di masyarakat luas dalam rangka memberikan jawaban dengan amaliah nyata, dan inilah eksistensinya (Courage to be). Dalam tatanan praktisnya IMM harus maupun berhubungan dengan segala pluralitas masyarakat dengan mengedepankan nilai-nilai kebajikan. Dengan tiga ide dasar kultur gerakan inilah IMM akan solid esktrabilished dan terus berkembang secara menyeluruh sesuai tujuannya.

D. Prinsip IMM
Untuk mengembangkan kedepannya yang semakin banyak tantangan, maka perlu sebuah prinsip sebagai bekal semangat (ghiroh) serta dasar atau landasan perjuangannya.
1. IMM adalah merupakan organisasi kader yang bergerak dibidang kemahasiswaan, keagamaan dan kemasyarakatan. -IMM adalah organisasi mahasiswa yang bergerak dibidang da’wah dengan ciri khas Muhammadiyah.
2. IMM adlah organisasi kader dan bukan organisasi massa untuk kepentingan kelompok tertentu.
3. Landasan berfikir dan bertindak IMM adalah Al Qur’an Assunah dan ijtihad.
4. Sebagai semboyan IMM adalah “Fastabiqul Khoirot” yaitu berlomba-lomba dalam kebajikan.
5. Motto atau jargon IMM adalah :
· Anggun dalam moral, unggul dalam intelektual.
· Rajin kuliah, aktif dalam organisasi, taat beribadah, dan sukses dalam berprestasi.
E. Struktur Kepemimpinan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
1. Dewan Pimpinan Pusat adlah jenjang kepemimpinan IMM tingkat Nasional
2. Dewan Pimpinan daerah adalah jenjang kepemimpinan IMM tingkat wilayah Muhammadiyah atau tingkat propinsi
3. Dewan Pimpinan Cabang adalah jenjang kepemimpinan IMM tingkat daerah Muhammadiyah atau tingkat Daerah Kabupaten / Kotamadya (Dati II)
4. Pimpinan Korkom adalah jenjang kepemimpinan IMM ditingkat perguruan tinggi sebagai pembantu pimpinan cabang, setelah garis koordinasinya cari cabang langsung ke Komisariat
5. Pimpinan komisariat adalah jenjang kepemimpinan IMM di tingkat fakultas atau jurusan diperguruan tinggi
F. Bentuk dan Arti Lambang IMM



Bentuk: Perisai Pena
Berarti lambang orang yang menuntut ilmu.
Berlapis tiga maknanya : Iman, Islam dan Ikhsan atau Iman, Ilmu dan Amal.


WARNA
Hitam  : Kekuatan, ketabahan, dan keabadian.
Kuning : Kemuliaan tujuan.
Merah  : Keberanian dalam berfikir, berbuat dan bertanggung jawab.
Hijau   : Kesejahteraan.
Putih   : Kesucian


GAMBAR
Sinar Muhammadiyah : Lambang Muhammadiyah.
Melati : IMM sebagai kader muda Muhammadiyah
Tulisan dalam pita : Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebajikan)


Biodata berdirinya Blog IMM P.K Biologi Stkip Muhammadiyah Bulukumba
Nama       : P.K Biologi Stkip Muhammadiyah
Tgl/lahir  :  16-10-2014
Di Buat    : IMMawan Adi Kurnia
Periode    : 2014-2015

Sejarah IMM

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
www.imm.or.id
MELACAK JEJAK SEJARAH
KELAHIRAN IMM tidak lepas kaitannya dengan sejarah perjalanan Muhammadiyah,   dan juga bisa  dianggap sejalan dengan faktor kelahiran Muhammadiyah itu sendiri. Hal ini berarti bahwa setiap hal yang dilakukan Muhammadiyah merupakan perwujudan dari keinginan Muhammadiyah untuk  memenuhi cita-cita sesuai dengan kehendak Muhammadiyah dilahirkan.
 Di samping itu, kelahiran IMM juga merupakan respond atas persoalan-persoalan keummatan dalam sejarah bangsa ini pada awal kelahiran IMM, sehingga kehadiran IMM sebenarnya merupakan sebuah keharusan sejarah. Faktor-faktor problematis dalam persoalan keummatan itu antara lainialah sebagai berikut (Farid Fathoni, 1990: 102):
1. Situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil, pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal,   serta adanya ancaman komunisme di Indonesia.
2. Terpecah-belahnya umat Islam datam bentuk  saling curiga dan fitnah, serta kehidupan politikummat Islam yang semakin buruk.
3.Terbingkai-bingkainya kehidupan kampus (mahasiswa) yang berorientasi pada kepentingan politik praktis
4.Melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak, dan semakin tumbuhnya materialisme-individualisme
5.Sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama  dalam kampus, serta masih kuatnya suasana kehidupan kampus yang sekuler
6.Masih membekasnya ketertindasan imperialisme penjajahan dalam bentuk keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan
7.Masih banyaknya praktek-praktek kehidupan yang serba bid'ah, khurafat, bahkan kesyi rikan, serta semakin meningkatnya misionaris- Kristenisasi
8. Kehidupan ekonomi, sosial, dan politik yang semakin memburuk
Dengan latar belakang tersebut, sesungguhnya semangat untuk mewadahi dan membina   mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah telah  dimulai sejak lama. Semangat tersebut sebenarnya  telah tumbuh dengan adanya keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah pada Kongres Seperempat Abad Muhammadiyah di Betawi  Jakarta pada tahun 1936. Pada saat itu, Pimpinan  Pusat Muhammadiyah diketuai oleh KH. Hisyam (periode 1934-1937). Keinginan tersebut sangat logis dan realistis, karena keluarga besar  Muhammadiyah semakin banyak dengan putera-puterinya yang sedang dalam penyelesaian pendidikan menengahnya. Di samping itu,Muhammadiyah juga sudah banyak memiliki amal usaba pendidikan tingkat menengah.
  Gagasan pembinaan kader di lingkungan  mahasiswa datam bentuk penghimpunan dan pembinaan langsung adatah selaras dengan kehendak  pendiri Muhammadiyah, KHA. Dahlan, yang berpesan  babwa "dari kallan nanti akan ada yang jadi dokter, meester, insinyur, tetapi kembalilah kepada   Muhammadiyah" (Suara Muhammadiyah, nomor 6  tahun ke-68, Maret || 1988, halaman 19). Dengan   demikian, sejak awal Muhammadiyah sudah  memikirkan bahwa kader-kader muda yang profesional harus memiliki dasar keislaman yang tangguh dengan kembali ke Muhammadiyah.
  Namun demikian, gagasan untuk menghimpun dan membina mahasiswa di lingkungan  Muhammadiyah cenderung terabaikan, tantaran  Muhammadiyah sendiri belum memiliki perguruan   tinggi. Belum mendesaknya pembentukan wadah kader di lingkungan mahasiswa Muhammadiyah  saat itu juga karena saat itu jumlah mahasiswa yang ada di lingkungan Muhammadiyah betum terialu banyak. Dengan demikian, pembinaan kadermahasiswa Muhammadiyah dilakukan melalui wadah Pemuda Muhammadiyah (1932) untuk mahasiswa putera dan metalui Nasyiatul Aisyiyah  (1931) untuk mahasiswa puteri.
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-31 pada  tahun 1950 di Yogyakarta, dihembuskan kembali keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah. Namun karena berbagai macam hat, keinginan tersebut belum bisa diwujudkan,sehingga gagasan untuk dapat secara langsung membina dan menghimpun para mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah tidak berhasil Dengan demikian, keinginan untuk membentuk wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah juga masih jauh dari kenyataan.
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang, gagasan pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah baru bisa direalisasikan. Namun gagasan untuk mewadahi mahasiswa Muhammadiyah dalam satu himpunan belum bias diwujudkan. Untuk mewadahi pembinaan terhadap mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah, maka Muhammadiyah membentuk Badan Pendidikan Kader (BPK) yang dalam menjalankan aktivitasnya bekerja sama dengan Pemuda Muhammadiyah.
Gagasan untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah dalam satu himpunan setidaknya telah menjadi polemik di lingkungan Muhammadiyah sejak lama. Perdebatan seputar kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah  berlangsung cukup sengit, baik di kalangan Muhammadiyah sendiri maupun di kalangan gerakan mahasiswa yang lain. Setidaknya, kelahiran IMM sebagai wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah mendapatkan resistensi, baik dari kalangan Muhammadiyah sendiri maupun dari kalangan gerakan mahasiswa yang lain, terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di kalangan Muhammadiyah sendiri pada awal munculnya gagasan pendirian IMM terdapat anggapan bahwa IMM betum dibutuhkan kehadirannya dalam Muhammadiyah, karena Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul Aisyiyah masih dianggap cukup mampu untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah.
Di samping itu, resistensi terhadap ide kelahiran IMM pada awalnya juga disebabkan adanya hubungan dekat yang tidak kentara antara Muhammadiyah dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hubungan dekat itu dapat ditihat ketika Lafran Pane mau menjajagi pendirian HMI. Dia bertukar pikiran dengan Prof. Abdul Kahar Mudzakir (tokob Muhammadiyah), dan beliau setuju. Pendiri HMI yang lain ialah Maisarah Hilal (cucu KHA. Dahlan) yang juga seorang aktifis di Nasyi'atul Aisyiyah.
Bila asumsi itu benar adanya, maka hubungan dekat itu selanjutnya sangat mempengaruhi perjalanan IMM, karena dengan demikian Muhammadiyah saat itu beranggapan bahwa pembinaan dan pengkaderan  mahasiswa Muhammadiyah bisa dititipkan metalui HMI (Farid Fathoni, 1990: 94). Pengaruh hubungan dekat tersebut sangat besar bagi kelahiran IMM. Hal ini bisa dilihat dari perdebatan tentang kelahiran IMM. Pimpinan Muhammadiyah di tingkat lokal seringkali menganggap bahwa kelahiran IMM saat itu tidak diperlukan, karena sudah terwadahi dalam Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atulAisyiyah, serta HMI yang sudah cukup eksis (dan mempunyai pandangan ideologis yang sama). Pimpinan Muhammadiyah pada saat itu lebih menganak- emaskan HMI daripada IMM. Hal ini terlihat jelas dengan banyaknya pimpinan Muhammadiyah, baik secara pribadi maupun kelembagaan, yang memberikan dukungan pada aktivitas HMI. Di kalangan Pemuda Muhammadiyah juga terjadi perdebatan yang cukup sengit seputar kelahiran IMM. Perdebatan seputar kelahiran IMM tersebut cukup beralasan, karena sebagian pimpinan (baik di Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyi'atul Aisyiyah, serta amal-amal usaha Muhammadiyah) adalah kader-kader yang dibesarkan di HMI.
 Setelah mengalami polemik yang cukup serius tentang gagasan untuk mendirikan IMM, maka pada tahun 1956 polemik tersebut mulai mengalami pengendapan. Tahun 1956 bisa disebut sebagai tahap awal bagi embrio operasional pendirian IMM dalam bentuk pemenuhan gagasan penghimpun wadah mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah (Farid Fathoni, 1990: 98). Pertama, pada tahun itu (1956) Muhammadiyah secara formal membentuk kader terlembaga (yaitu BPK). Kedua, Muhammadiyah pada tahun itu telah bertekad untuk kembali pada identitasnya sebagai gerakan Islam dakwah amar ma'ruf nahi munkar (tiga tahun sesudahnya, 1959, dikukuhkan dengan melepaskan diri dari komitmen politik dengan Masyumi, yang berarti bahwa Muhammadiyah tidak harus mengakui bahwa satu-satunya organisasi mahasiswa Islam di Indonesia adalah HMI). Ketiga, perguruan tinggi Muhammadiyah telah banyak didirikan. Keempat, keputusan Muktamar Muhammadiyah bersamaan Pemuda Muhammadiyah tahun 1956 di Palembang tentang "....menghimpun pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi pemuda Muhammadiyah atau warga Muhammadiyah yang mampu mengembangkan amanah."
 Baru pada tahun 1961 (menjelang Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad di Jakarta) iselenggarakan Kongres Mahasiswa Universitas Muhammadiyah di Yogyakarta (saat itu, Muhammadiyah sudah mempunyai perguruan tinggi Muhammadiyah sebelas buah yang tersebar di berbagai kota). Pada saat itulah, gagasan untuk mendirikan IMM digulirkan sekuat-kuatnya. Keinginan tersebut ternyata tidak hanya dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah, tetapi juga dari kalangan mahasiswa di berbagai universitas non-Muhammadiyah. Keinginan kuat tersebut tercermin dari tindakan para tokoh Pemuda Muhammadiyah untuk melepaskan Departemen Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah untuk berdiri sendiri. Oleh karena itu, lahirlah Lembaga Dakwah Muhammadiyah yang dikoordinasikan oleh Margono (UGM, Ir.), Sudibyo Markus (UGM, dr.), Rosyad Saleh (IAIN, Drs.), sedangkan ide pembentukannya dari Djazman al-Kindi (UGM, Drs.).
   Tahun 1963 dilakukan penjajagan untuk mendirikan wadah mahasiswa Muhammadiyah secara resmi oleh Lembaga Dakwah Muhammadiyah dengan disponsori oleh Djasman al-Kindi yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Dengan demikian, Lembaga Dakwah Muhammadiyah (yang banyak dimotori oleh para mahasiswa Yogyakarta) inilah yang menjadi embrio lahirnya IMM dengan terbentuknya IMM Lokal Yogyakarta.
   Tiga butan setelah penjajagan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mere,smikan berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada tanggal 29 Syawal 1384 H. atau 14 Maret 1964 M. Penandatanganan Piagam Pendirian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dilakukan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu, yaitu KHA. Badawi. Resepsi peresmian IMM dilaksanakan di Gedung Dinoto Yogyakarta dengan penandatanganan 'Enam Penegasan IMM' oleh KHA. Badawi, yaitu:
1. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan  mahasiswa Islam
2. Menegaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah  adalah landasan perjuangan IMM
3. Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah eksponen mahesiswa dalam Muhammadiyah
4. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi mahasiswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undartg, peraturan,  serta dasar dan falsafah negara
5. Menegaskan bahwa ilmu adalá amaliah dan  amal adalah ilmiah
6. Menegaskan bahwa amal WJA aMah lillahi  ta'ala dan senantiasa diabdWan untuk kepentingan rakyat.
  Tujuan akhir kehadiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk pertama kalinya ialah membentuk  akademisi Islam datam rangka metaksanakan tujuan Muhammadiyah. Sedangkan aktifitas IMM pada awal kehadirannya yang paling menonjol ialah kegiatan keagamaan dan pengkaderan, sehingga seringkali IMM pada awal kelahirannya disebut sebagai Kelompok Pengajian Mahasiswa Yogya (Farid Fathoni, 1990: 102).
 Adapun maksud didirikannya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah antara lain adatah sebagai berikut:
1. Turut memelihara martabat dan membela  kejayaan bangsa
2. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam
3.Sebagai upaya menopang, melangsungkan, dan meneruskan cita-cita pendirian Muhammadiyah
4. Sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna  amal usaha Muhammadiyah
5. Membina, meningkatkan, dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa, ummat, dan persyarikatan
 Dengan berdirinya IMM lokal Yogyakarta, maka berdiri pulalah IMM lokal di beberapa kota lain di Indonesia, seperti Bandung, Jember, Surakarta, Jakarta, Medan, Padang, Tuban, Sukabumi, Banjarmasin, dan lain-lain. Dengan demikian, mengingat semakin besarnya arus perkembangan IMM di hampir seluruh kota-kota universitas, maka dipandang perlu untuk meningkatkan IMM dari organisasi di tingkat lokal menjadi organisasi yang berskala nasional dan mempunyai struktur vertikal.
 Atas prakarsa Pimpinan IMM Yogyakarta, maka bersamaan dengan Musyawarah IMM se-Daerah Yogyakarta pada tanggal 11-13 Desember 1964 diselenggarakan Musyawarah Nasional Pendahuluan IMM seluruh Indonesia yang dihadiri oleh hamper seluruh Pimpinan IMM Lokal dari berbagai kota. Musyawarah Nasional tersebut bertujuan untuk mempersiapkan kemungkinan diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada bulan April atau Mei 1965. Musyawarah Nasional Pendahuluan tersebut menyepakati penunjukan Pimpinan IMMYogyakarta sebagai Dewan Pimpinan Pusat Sementara IMM (dengan Djazman al-Kindi sebagai Ketua dan Rosyad Saleh sebagai Sekretaris) sampai diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama di Solo.
Dalam Musyawarah Pendahuluan tersebut juga disahkan asas IMM yang tersusun dalam 'Enam Penegasan IMM', Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMM, Gerak Arah IMM, serta berbagai konsep lainnya, termasuk lambang IMM, rancangan kerja, bentuk kegiatan, dan lain-lain.
PRINSIP DASAR ORGANISASI
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah gerakan mahasiswa Islam yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan. Tujuan IMM adatah mengusahakan terbentuknyaakademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
Dalam mencapai tujuan tersebut, Ikatan  Mahasiswa Muhammadiyah melakukan beberapa  upaya strategis sebagai berikut :
1.   Membina para anggota menjadi kader persyarikatan Muhammadiyah, kader umat,
 dan kader bangsa, yang senantiasa setia  terhadap keyakinan dan cita-citanya.
2.Membina para anggotanya untuk selalu tertib  dalam ibadah, tekun dalam studi, dan  mengamalkan ilmu pengetahuannya untuk  melaksanakan ketaqwaannya dan pengab diannya kepada allah SWT.
3.Membantu para anggota khusus dan mahasiswa pada umumnya dalam menyelesaikan kepentingannya.
4. Mempergiat, mengefektifkan dan menggembirakan dakwah Islam dan dakwah amar ma'ruf nahi munkar kepada masyarakat khususnya masyarakat mahasiswa.
5. Segala usaha yang tidak menyalahi azas, gerakan dan tujuan organisasi dengan mengindahkan segala hukum yang berlaku dalam Republik Indonesia.
JARINGAN STRUKTURAL IMM
Susunan organisasi IMM dibuat   secara  berjenjang dari tingkat Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, dan  Komisariat. Dewan Pimpinan Pusat adatah tingkat  pimpinan tertinggi di IMM yang menjangkau ruang lingkup nasional. Dewan Pimpinan Daerah adatah pimpinan organisasi yang menjangkau suatu kesatuan wilayah tertentu yang terdiri dari cabang-cabang IMM. Pimpinan Cabang adalah pimpinan organisasi yang menjangkau satu kesatuan komisariat IMM. Komisariat IMM adatah kesatuan anggota-anggota IMM dalam sebuah perguruan tinggi atau kelompok tertentu. Saat ini, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah telah menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
PROGRAM KERJA
Secara umum program kerja IMM dilaksanakan untuk memantapkan eksistensi organisasi demi  mencapai tujuannya, "mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah" (AD IMM Pasal 6). Untuk menunjang pencapaian tujuan IMM tersebut, maka perencanaan dan pelaksanaan  program kerja diorientasikan bagi terbentuknya  profil kader IMM yang memiliki kompetensi dasar  aqidah, kompetensi dasar intelektual, dan  kompetensi dasar humanitas. Sebagai organisasi yang      bergerak       di     bidang      keagamaan,  kemasyarakatan, dan kemahasiswaan, maka  program kerja IMM pada dasarnya tidak bisa lepas  dari tiga bidang garapan tersebut. Perencanaan dan  pelaksanaan program kerja tersebut memiliki  stressing yang berbeda-beda (berurutan dan saling  menunjang) pada masing-masing level  kepemimpinan.
 *     Di tingkat Komisariat: kemahasiswaan, perkaderan,keorganisasian,kemasyarakatan.
 *     Di tingkat Cabang: Perkaderan, kemahasiswaan, keorganisasian, kemasyarakatan.
 *     Di tingkat Daerah: keorganisasian, kemasyarakatan, perkaderan, kemahasiswaan.
 *     Di tingkat Pusat: Kemasyarakatan, keorganisasian, perkaderan, kemahasiswaan.
 Berkaitan dengan program kerja jangka panjang, maka sasaran utamanya diarahkan pada upaya perumusan visi dan peran sosial politik IMM memasuki abad XXI. Hal ini tidak lepas dari ikhtiar  untuk memantapkan eksistensi IMM demi tercapainya tujuan organisasi (lihat AD IMM Pasal 6). Sasaran utama dan program jangka panjang ini  merujuk pada dan melanjutkan prioritas program yang telah diputuskan pada Muktamar Vll IMM di  Purwokerto (1992). Program dimaksud menetapkan  strategi pembinaan dan pengembangan organisasi  secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan  selama Lima periode Muktamar IMM.
 Periode Muktamar IX diarahkan pada  pemantapan konsolidasi internal (organisasi,  pimpinan, dan program) dengan meningkatkan  upaya pembangunan kualitas institusional dan  pemantapan mekanisme kaderisasi dalam  menghadapi perkembangan situasi sosial politik  nasional yang semakin dinamis. Periode Muktamar  X diarahkan pada penguatan orientasi kekaderan  dengan meningkatkan mutu sumber daya kader  sebagai penopang utama kekuatan organisasi  datam transformasi sosial masyarakat. Periode  Muktamar XI diarahkan pada penguatan peran  institusi organisasi baik secara internal (pelopor,  pelangsung, dan penyempurna gerakan pembaruan dan amal usaha Muhammadiyah) maupun eksternal  (kader umat dan kader bangsa).
  Periode Muktamar XII diarahkan pada pemantapan peran IMM dalam wilayah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara memasuki era globalisasi yang lebih luas. Periode Muktamar XIll diarahkan pada pemberdayaan institusi organisasi serta pemantapan peranan IMM dalam kehidupan sosial politik bangsa.
Kemudian pelaksanaan program jangka panjang itu memiliki sasaran khusus pada masing-masing bidangnya. Bidang Organisasi diarahkan pada terciptanya struktur dan fungsi organisasi serta mekanisme kepemimpinan yang mantap dan mendukung gerak IMM dalam mencapai tujuannya. Program konsolidasi gerakan IMM juga diarahkan bagi terciptanya kekuatan gerak IMM baik ke datam maupun ke luar sebagai modal penggerak bagi pengembangan gerakan IMM.
Bidang Kaderisasi diarahkan pada penguatan tiga kompetensi dasar kader IMM (aqidah, intelektual, dan humanitas) yang secara dinamis mampu menempatkan diri sebagai agen pelaku perubahan sosial bagi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi diarahkan pada pembangunan budaya iptek dan penguatan paradigma ilmu yang melandasi setiap agenda dan aksi gerakan IMMdalam menyikapi tantangan zaman.
       Bidang Hikmah diarahkan pada penguatan peran sosial politik IMM di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam peran serta dan partisipasi sosial politik generasi muda (mahasiswa). Bidang Sosial Ekonomi diarahkan pada penumbuhkembangan budaya dan wawasan wiraswasta di lingkungan IMM, terutama dalam membangun dan memberdayakan potensi ekonomi kerakyatan. Bidang Immawati diarahkan pada upaya penguatan jati diri dan peran aktif sumber daya kader puteri IMM dalam transformasi social menuju masyarakat utama.

Peguatan Ideologi Dalam Kader



BAB I
Pendahuluan
1. Latar belakang

Ikatan Mahasiswa Muhamaddiyah (IMM) lahir 14 Maret 1964 di Yogyakarta, berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhamaddiyah yang kala itu di pimpin oleh KH. A Badawi. Dalam jajaran organisasi otonom Muhamaddiyah, IMM merupakan yang paling muda (Ghazali dalam Maarif, 2007:63). Lebih lanjut, (Purnawan, 2007: 3) mengatakan, bahwa Ikatan Mahasiswa Muhamaddiyah (IMM) merupakan organisasi otonom Muhamaddiyah yang berdiri di Yogyakarta pada tanggal 29 Syawal 1384 H atau bertepatan dengan tanggal 14 Maret 1964 M. Kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhamaddiyah (IMM) merupakan konsekuensi bagi Muhamaddiyah dalam hal kaderisasi berdasarkan periodisasi kelompok umur. Salah satu pendorong dirintisnya Ikatan Mahasiswa Muhamaddiyah (IMM) adalah agar  Muhamaddiyah sebagai organisasi gerakan dakwah Islam yang cukup progresif, bisa memasuki (menerobos) dunia kampus pada era enem puluhan merupakan basis gerakan kultural, agen utama perubahan sosial, dan salah satu komunitas yang berperan aktif dalam menumbangkan ideologi komunis yang pada saat itu benar-benar bertolak belakang secara diametral dengan cita-cita perjuangan bangsa. IMM dilahirkan untuk melakukan penetrasi, mensosialisasikan dakwah Islam yang sesuai dengan arah dan perjuangan Muhamaddiyah di tengah-tengah masyarakat kampus yang dinamis dan inklusif bagi perkembangan ideologi-ideologi sekuler. 
Ikatan Mahasiswa Muhamaddiyah (IMM) sebagai gerakan mahasiswa yang sejak awal berdiri telah menstabilkan diri untuk mewadahi aspirasi, menggerakan dan mengembleng potensi mahasiswa Islam, terus mempersiapkan diri untuk mencetak kader-kadernya agar memiliki  memiliki kemampuan yang memadai. Perjalanan yang panjang  perjuangan Ikatan Mahasiswa Muhamaddiyah (IMM) senantiasa membangun kehidupan kebangsaan yang damai, cerdas dan sejahtera melalui proses rekruitmen, perkaderan serta pembinaan yang konsisten. Perjalanan Ikatan Mahasiswa Muhamaddiyah (IMM) tersebut telah memberikan warna bagi kader-kadernya dan juga entitas yang lain, sehingga mampu menampilkan sosok yang dinamis-progresif dalam melakukan pencerahan, prefikasi ideologi, reformasi pola pikir cara pandang yang tentunya berdampak pada pembentukan perilaku yang jujur, istiqomah, ramah dan tidak serakah.
            Pemimpin dan kader adalah dua unsur yang sangat penting dalam setiap organisasi, termasuk organisasi Ikatan Mahasiswa Muhamaddiyah (IMM). Pemimpin adalah orang yang diberi amanah untuk berada di depan, diikuti dan diteladani. Sedangkan, kader adalah tenaga inti yang selalu siap bersama dan bekerja keras menjalankan tugas-tugas organisasi dalam rangka mencapai tujuan bersama. Betapa pentingnya peran pemimpin dan kader ini, maka hampir dapat dipastikan dalam setiap organisasi selalu ada acara, program latihan  kepemimpinan dan pengaderan. Kuat dan lemahnya sebuah organisasi sangat  tergantung dan ditentukan oleh kualitas pemimpin dan kadernysasi

2. Rumusan Masalah
            Landasan ideologi kader yang belum mencapai tingkat standar kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dalam mengembang amanah Muhammadiyah dan sesuai ajaran Al-Qur’an dan sunnah untuk mencapai pemimpin kader yang dapat mengembang amanah.
3. Tujuan
            Mnyajikan sumber wawasan agar tercipta ikatan yang dapat mengemban amanah sesuai dengan ideologi ikatan dan dapat tercipta kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang sesuai dengan landasan Al-Qur’an dan sunnah serta kepemimpinan Rasulullah SAW

BAB II
Pembahasan

2.1 Ideologi Dasar Penguatan Kepemimpinan
            Ideologi adalah seperangkat konsep sistem nilai yang dijadikan asas dan memberikan arah berpikir, dan beraktivitas untuk mencapai tujuan suatu perkumpulan atau organisasi . (Depdikbud dalam Anshori, 2010: 1) kepemimpinan yang kuata hanya bisa diwujudkan dengan landasan sistem ideologi yang kuat pula, ketertibab, dan kekuatan kepemimpinan Muhammadiyah atau Ikatan Mahasiswa Muhamaddiyah (IMM)  hanya akan bisa terwujud apabila dibangun berdasarkan prinsip-prinsip ideologi  Muhamaddiyah yang tepah ditetapkan berdasarkan keputusan Tanwir, Muktamar Muhamadidiyah, karena ideologi memiliki energi spiritual yang mampu memutivasi warga Muhammadiyah untuk menggerakan Muhammadiyah dengan penuh semangat, dan dedikasi, serta loyalitas yang tinggi (Anshori, 2010 : 1). Ideologi: segala macam nilai, moralitas, interpretasi dunia atau apa saja yang berupa nilai. Sistem nilai atau keyakinan yang diterima sebagai fakta atau kebenaran oleh kelompok sosial tertentu. Sistem berpikir, sistem kepercayaan, praktek-praktek simbolik yang berhubungan dengan tindakan sosial dan politik. Kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup. Keseluruhan sistem berpikir, nilai-nilai dan sikap-sikap dasar rohani sebuah gerakan, kelompok sosial atau kebudayaan. Jadi, ideologi adalah ide-ide atau nilai-nilai ideal yang diyakini benar sehingga layak digunakan sebagai resep bertindak dalam mewujudkan tujuan kelompok sosial, masyarakat maupun negara.
            Pengaderan adalah suatu proses cara mendidik atau melatih seseorang untuk menjadi kader (Depdikbud dalam Anshori, 2010: 1). Mengingat pentingnya posisi, dan peranan kader, maka Muhammadiyah dan IMM sejak awal telah memperhatikan pengaderan, dalam Muhammadiyah dan IMM pengaderan di proses secara formal dan informal. Secara formal, pengaderan disiapkan dengan seperngkat konsep pengaderan sebagai landasan, dan dilaksanakan secara berjenjang, serta mendorong para kader melanjutkan pendidikan secara akademik sesuai dengan bidang bakat, serta minat masing-masing kader. Secara non formal, pengaderan diproses dengan memberi kepercayaan kepada kader untuk mengisi struktur perserikatan Muhammadiyah di berbagai tingkat, menugaskan para kader untuk melaksanakan program-program Muhammadiyah, baik di bidang tablig, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Para kader harus memiliki kekuatan ideologi Muhammadiyah, konsekuensinya  setiap kader harus giat, dan serius  mempelajari, memahami, dan mengamalkan prinsip-prinsip ideologi Muhammadiyah, tanpa kekuatan ideologi kader tidak akan mampu eksis sebagai kader militan Muhammadiyah yang akan mampu menghadapi  dan mengatasi kompleksitas persoalan-persoalan persaikatan pada masa-masa yang akan datang.  ideologi Muhammadiyah dan IMM dapat difungsikan untuk kepentingan antara lain sebagai berikut: pertama,  ideologi Muhammadiyah dan IMM secara spiritual dapat menguatkan ghiroh, azam atau tekat bermuhammadiyah yang kuat dan ikhlas untuk mendapat ridha Allah SWT, dan tidak dapat digoyahkan oleh kekuatan-kekuatan yang semata-mata bersifat manusiawi; kedua, ideologi Muhammadiyah dan IMM berfungsi untuk membentuk karakter kolektif yang bersih, yang sangat menentukan terwujudnya kolegiusitas yang kuat, nyaman dan damai dalam menggerakkan Muhammadiyah dan IMM; ketiga, ideologi Muhammadiyah dan IMM berfungsi untuk menyusun, menerbitkan langkah-langkah strategi untuk menggerakan Muhammadiyah dan IMM, dan seluruh amal usaha Muhammadiyah; keempat, ideologi Muhammadiyah dan IMM  berfungsi dalam membentengi  Muhammadiyah, dan setiap kader Muhammadiyah dan IMM dari berbagai pengaruh aliran pemikiran keagamaan yang sesat, ideologi ekonomi, dan ideologi politik yang beretntangan dengan Islam (Anshori, 2010 : 4-5).                                                                                                                                

2.2 Kepemimpinan dalam Ikatan  
            Agar tidak terjadi salah paham, perlu dijelaskan kata-kata yang terkait dengan kepemimpinan, yait pimpinan berarti dalam keadaan dipimpin atau dibimbing. Memimpin berarti dalam keadaan membimbing, mempelajari, mengepalai perkumpulan atau melatih. Pemimpin berarti orang yang memimpin, sedangkan kepemimpinan adalah perihal pemimpin (Depdikbud, 1990: 684; dalam Anshori, 2010 : 7).                                                                                 Dalam bahasa Inggris kepemimpinan adalah semakna dengan kata leadirship,  dalam bahasa Arab, kepemimpinan semakna dengan kata “al-qiyadah” dan “ar-ri’asah”. Dengan demikian dapat dipahami  bahwa kepemimpinan adalah suatu sistem membimbing, melatih, mengurus, dan mengapalai suatu organisasi, meliputi berbagai sub sistem, antara lain adalah dasar-dasar, dan garis-garis kepemimpinan, prinsip-prinsip memimpin, wadah kepemimpinan. Dan kompetensi orang yang memimpin (pemimpin).  Memimpin dalam Muhammadiyah dan IMM seharusnya dilandasi dengan prinsip-prinsip pemimpin dalam Islam yang mencakup hal-hal sebagai berikut: Pertama; memimpin adalah memberi peringatan. Seorang pemimpin wajib mendasari kepemimpinannya dengan memberikan pengertian kepad orang yang dipimpin, agar orang yang dipimpin dapat menjalankan kepemimpinan dengan pemahaman dan kesadaran serta keikhlasan. Hal ini ditegaskan pula dalam (QS. Al-Isra’/17:36) artinya: “Dan jangalah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuannya itu akan diminta pertanggungjawabannya”.  Kedua, pemimpin adalah membimbing kepada perbuatan baik. Memimpin bukanlah memerintah orang untuk mengikuti kemauannya, tetapi menggairahkan, membimbing memerintahkan berbuat kebaikan serta menetapi kewajiban terhadap Allah Subhanahu Wata’Allah dan masyarakat. Pola kepemimpinan Rosulullah SAW antara lain tercermin dalam (QS. Al-Araf/7: 157) artinya: “ (yaitu) orang-orang yang mengikuti rasul, nabi ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada disisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari yang mungkar dan mengahalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang air dari beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Ketiga, memimpin adalah mencegah umat dari perbuatan mungkar. Memimpin umat tidaklah berarti hanya menggerakan umat itu menuju kondisi yang lebih baik, tetapi dalam rangka itu juga harus menyelamatkan umat dari kerusakan jasmani dan rohaninya, penghidupan dan masyarakatnya. Sebab itulah setiap pemimpin wajib dengan tegas mencegah umat dari tindakan mungkar  dengan pencegahan, dan represif yakni mengentikan kemungkaran yang sedang terjadi dan preventif yaitu menegah kemungkinan terjadinya kemungkaran. “Wayan’haahum a’nilmunkar” artinya:   “...dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar......”. Keempat, memimpin adalah menganjurkan umat hanya memanfaatkan yang bersih dan melarang hal-hal yang kotor.   Seorang pemimpin harus dengan tegas menggariskan pemisahan antara hal yang halal dan bersih dengan perkara yang kotor dan keji. Baik hal itu mengenai makanan, pencaharian dan kelakuan sehari-hari, agar supaya mereka yang dipimpin dapat menjalani kehidupan dan melakukan segala usaha dengan jujur lagi bersih. Watuhillu Bahumuttayyibaati Watuharrimu A’laihiimu Ulghaaisya”. Artinya: “...dan mengahalkan bagi mereka segala yang baik dan mengaharamkan bagi mereka segala yang buruk....”. Kelima, memimpin adalah meringankan beban umat dan melepaskan belenggu.  Memimpin harus dilandasi oleh rasa kasih sayang kepada yang dipimpin, dan oleh cita-cita tercapainya kebahagiaan bagi umat. Pemimpin harus mengetahui akan hal-hal yang membelenggu dan merusak jiwa umat, apakah itu kebodohan, takhayul atau kepercayaan yang tidak benar. Karena itu pemimpin harus dapat membawa mereka karena kecerdasan, pikiran yang maju serta pandangan yang luas. Wayadhahu anhum israhum wal aghlaallati ka’nat a’laiihim. Artinya: “...dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu mereka...”.. Keenam, memimpin tidak sekedar mengikuti kehendak yang dipimpin. Sementara pemimpin, karena mencari simpati, sering mengikuti apa saja keinginan  itu tidak layak dan tidak layak dan tidak benar. Sikap ini tidak mendidik, bahkan membawa umat yang tidak layak, yang tidk menuju kepada suksesnya kepemimpinan. Dalam hal ini pemimpin harus tegas mengarahkan umat dan tidak diarahkan. Firman Allah SWT dalam Surat Asy Syura ayat 15. Artinya: “ Maka Karena itu Serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah (1343) sebagaimana diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Tidak ada pertengkaran, antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)”. Ketujuh, memimpin tidak boleh bertentangan dengan kehendak Allah dan Rosul-Nya. Telah menjadi tugas setiap pemimpin untuk melaksanakannya dalam bentuk sebagaimana tersebut di atas. Maka kepada orang yang dipimpin disyaratkan adanya ketaatan yang dimaksud adalah adalah ketaatan berdasarkan pengertian, kesadaran dan keikhlasan. Ketaatan ditujukan ditujukkan kepada pimpinan yang benar, bukan tertuju semata-mata kepada pribadi pemimpin. Bukan karena yang menjadi pemimpin si Fulan tetapi karena pemimpin itu memimpinkan sesuatu yang benar, sesuai dengan petunjuk Allah dan tuntunan Rosul-Nya. Firman Allah SWT (QS. An-Nisaa/4: 59) artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu kembalikanlah kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. Firman Allah SWT tersebut menegaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin adalah semata-mata dalam rangka ketaatan kepada Allah dan Rosul. Dan apabila terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat  antara pemimpin dengan yang dipimpin maka segera menjadikan petunjuk Allah dan tuntunan Rosul menjadi hakim. Oleh karena itu, taat kepada pemimpin menjadi kewajiban yang dipimpin selama kepemimpinan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rosul. Oleh karena itu, menjadi kewajiban pemimpin untuk membina ketaatan pengikutnya kepada perintah Allah dan Rosul.                                                            

2.3 Penguatan Pengaderan Ikatan
            Pentingnya penguatan pengaderan dilatarbelakangi oleh beberapa faktor antara lain: Pertama, untuk mempertahankan, dan mengembangkan eksistensi gerakan Muhamaddiyah  dan IMM pada masa yang akan datang; kedua, mengingat bahwa Muhamaddiyah dan IMM selalu berada dalam pusaran kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang selalu dinamis, disertai dengan perkembangan pemikiran keagamaan, pendidikan, sosial-budaya, ekonomi, dan politik yang tidak semestinya sejalan dengan pemikiran Muhamaddiyah . Pada gilirannya akan menjadi tantangan sangat besar, dan kompleks bagi Muhamaddiyah; ketiga, akhir-akhir ini semakin terasa terjadinya deviasi nilai dalam proses pengembangan pemikiran di sebahagiaan mahasiswa maupun angkatan muda Muhamaddiyah; keempat,  untuk menghindari terjadinya kekosongan generasi penerus yang berkualitas. Demikianlah antara lain dasar konsideran urgensinya penguatan pengaderan. 
langkah-langkah penguatan pengaderan agar berjalan dengan efektif, maka perlu langkah-langkah sebagai berikut: Pertama,  perlu merekonstruksi kurikulum dan silabi pengaderan, kurikulum yang mengacu tercapainya pemahaman yang luas, dan mendalam terhadap ideologi Muhamadiyah. Perlu ada  pengelompokan materi yang jelas, dan berkesinambungan, dan terget pencapaian, pada berbagai tingkatan; Kedua, menyusun konsep pengaderan dan mengoperasionalisasikan secara simultan (menyeluruh) dan terpadu di lingkungan setiap tingkatan;  Ketiga, mengintensifkan pendataan kader dan aspek-aspek yang terkait lainnya guna kepentingan pengembangan kader Muhamaddiyah dengan kepentingan misi perserikatan; keempat, mengoptimalkan dukungan fasilitas, sarana, prasarana dan dana untuk pengembangan kualitas kader dan sumber daya manusia di lingkungan Muhamaddiyah (Anshori, 2010 : 89-92).   

2.4 Penguatan Intelektual dan Ideologi Kader Ikatan

            Dalam konteks kader IMM, komponen kualitas intelektual, ideologi dan kelembagaan akan menentukan kualitas kader ke depan. Kualitas intelektual merupakan raison d’etre  untuk menelaah dan mencermati setiap fenomen. Ketajaman intelektual akan menggugah kesadaran nurani untuk setiap saat memikirkan kondisi sosial. Seorang intelektual sejati tidak akan pernah diam berpikir dan bergerak untuk merenungkan, mencermati dan mencarikan soslusi demi perbaikan kualitas hidup manusia. Ketidakadilan, kemelaratan, kemiskinan, eksploitasi manusia ala survival of the fittest,  dan seterusnya merupakan deretan agenda untuk menggugah kesadaran nurani kaum intelktual. Kesejatian keintelektualan seseorang akan dapat diukur dari keberanian mereka sebagai martyr bagi kebenaran hakiki.                                                                                                                   Pentingnya gerakan intelektual  tidak akan pernah sustainability jika domain ideologi tidak melekat. Gerakan intelektual seiring dan sebangun dengan gerakan ideologi.  Ideologi akan mengukuhkan sibghoh gerakan intelktual. Dengan pranata ideologi, gerakan intelektual akan menemukan momentum arah, visi misi bahkan menemukan target dan  indikasi. Percumbuan antara aspek intelektual dengan ideologi terletak pada aspek pembelaan pada kepentingan masyarakat. Pada perserikatan Muhaddiyah terutama kader IMM, percumbuan itu tentu dibidik pada kepentingn pemberdayaan, penguatan dan advokasi masyarakat. Seorang intelektual di IMM dan Mhamaddiyah adalah seorang ideolog, yang memiliki misi nilai dalam berpikir dan bertindak. IntelektualnIMM adalah seorang yang tidak bebas nilai. Ketidakbebasan nilai itu terletak pada misi itu terletak pada misi pemberdayaan dan penguatan masyarakat. Seorang kader IMM akan senantiasa tergugah hati dan pikirannya dalam melihat kebiadaban yang dilakukan manusia, teriris nuraninya dalam melihat kemelaratan, ketidakadilan, dan pelbagai patologi sosial lainnya. Dengan demikian, kader IMM adalah seorang misionaris yang mengemban nilai. Nilai yang diemban adalah nilai Islam yang Rahmatan Lil’alamin. Seorang kader IMM yang memiliki fungsi intelektual dan ideologi akan bersifat inklusif, open minded dan rendah hati.
Fungsi intelektual dan ideologi seperti itu dipastikan bahwa seorang kader IMM tidak akan menempatkan agama dalam genggaman sakralitas yang tidak boleh disentuh oleh akal budi dan pikiran manusia. Seorang kader IMM akan melihat bahwa misi agama  yang dianutnya akan bisa beroperasi secara konkret dalam konteks sosial jika agama disentuh akal budi, pikiran dan kerja keras manusia. Agama membutuhkan kerja-kerja intelektual sebelum ia diimplementasikan dalam tataran praksis. Agama yang diturunkan Allah akan lebih perfect jika umatnya mampu menafsirkan agamanya secara intelektual dan ideologis dalam konteks sosio-historis.
                                                                       
 
BAB III
Penutup
3.1 KESIMPULAN
Ikatan Mahasiswa Muhamaddiyah (IMM) sebagai gerakan mahasiswa yang sejak awal berdiri harus menstabilkan diri untuk mewadahi aspirasi, menggerakan dan mengembleng potensi mahasiswa Islam, terus mempersiapkan diri untuk mencetak kader-kadernya agar memiliki  memiliki kemampuan yang memadai.  Kemudian,penguatan pengaderan sangat penting guna untuk mempertahankan  dan mengembangkan eksistensi gerakan Muhamaddiyah pada masa yang akan datang.
Setiap kader Ikatan Mahasiswa Muhamaddiyah harus memiliki ideologi yang kuat yang sudah dimiliki Muhamaddiyah sebab ideologi Muhammadiyah dan IMM secara spiritual dapat difungsikan menguatkan ghiroh, azam atau tekat bermuhammadiyah yang kuat dan ikhlas untuk mendapat ridha Allah SWT, membentuk karakter kolektif yang bersih, yang sangat menentukan terwujudnya kolegiusitas yang kuat, nyaman dan damai dalam menggerakkan Muhammadiyah dan IMM secara khusus..
sayapun juga tak kan lupa untuk selalu mengingatkan kepada kawand2 dakwahlah dalam sebuah organisasi kampus dan niatkanlah dakwah itu hanya atas muhlis lillah karena Allah sebab segala sesuatu amalan, tak kan pernah terhitung sebagai pahala ketika niatnya selain karena Allah. fastabiqul khoirot ..... jazakumullahu khoiro,,, 
3.2 SARAN
            Dalam pembuatan makalah ini masih banyak memerlukan revisi maka dari hal itu saya menyampaikan bahwa saya meminta bantuan terhadap pembaca agar dapat membantu apabila banyak kekurangan dan kesalahn.



DAFTAR PUSTAKA
http//www.//ideologi ikatan mahasiswa muhammadiyah@google.co.id
            http//www.//pemimpin.@wikipedia.com
            http.//www.//ikatan mahasiswa muhammadiyah@/muhammadiyah.@.com